PAUD FAIR 2018 BANTU WUJUDKAN GENERASI ANAK BANGSA YANG AKTIF, KREATIF, INOVATIF, DAN KOMPETITIF


Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (HIMA PG PAUD) Fakultas Keguruan Ilmu Pendidika (FKIP) Universitas Mulawarman (UNMUL), menggelar PAUD FAIR 2018.

Pelaksanaan kegiatan berlangsung selama dua hari berturut-turut yaitu pada tanggal 21-22 April 2018. Acara yang dilaksanakan selama dua hari berturut-turut ini dapat diikuti oleh TK se-Samarinda, Guru TK se-KALTIM, dan Mahasiswa Umum.

PAUD FAIR 2018 ini menggelar berbagai macam kegiatan yang menarik mulai dari  talkshow parenting dan lomba membuat APE untuk Mahasiswa Umum dan Guru TK, hingga Unjuk Bakat Anak (Fashion Show, Menari, Mewarnai dan Menggambar).

PAUD FAIR 2018 ini dilaksanakan tidak hanya untuk memberikan pengalaman bagi para pesertanya tetapi juga sebagai perayaan atas berhasilnya Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia di Universitas Mulawarman dalam memperoleh peringkat Akreditasi B dan HUT PG PAUD Universitas Mulawarman yang ke-10. Tema PAUD FAIR 2018 yang dilaksanakan oleh HIMA PG PAUD Universitas Mulawarman ini adalah “Menyongsong Generasi Emas Melalui Kreatifitas”.

Seperti pada hari sabtu tanggal 21 April 2018, para panitia menyelenggarakan talkshow parenting dan lomba APE yang dapat diikuti oleh mahasiswa dan guru TK se-KALTIM. Pelaksanaan kegiatan yang berlangsung di aula kampus Banggeris FKIP UNMUL ini diikuti oleh 170 peserta warga umum talkshow parenting dan lomba ape diikuti oleh 20 kelompok mahasiswa dan guru se-KALTIM. Lokasi kegiatan pun dipenuhi oleh para peserta.

Kegiatan talkshow parenting ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan para mahasiswa, guru-guru TK, dan juga orang tua dalam pentingnya pendidikan intelektual dan pendidikan karakter dalam menghadapi perkembangan zaman.

Selain tema yang diangkat sangat menarik, HIMA PG PAUD Universitas Mulawarman juga menghadirkan pemateri yang cukup berkompeten di bidangnya. Sehingga para mahasiswa, guru TK, dan para orang tua bisa memahami betul apa yang perlu diperhatikan dalam pendidikan anak.

Kegiatan setelah talkshow parenting adalah lomba APE untuk para mahasiswa dan guru TK se-KALTIM. Kegiatan ini dilakukan untuk memunculkan ide kreatif dari calon guru PAUD dan guru TK dalam pembuatan APE yang kreatif dan inovatif, mengembangkan alat permainan edukatif yang aman, sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak, dan memberikan apresiasi dan motivasi kepada masyarakat dalam mengembangkan Alat Permainan Edukatif anak usia dini.
  
Pada hari Minggu 22 April 2018, yang merupakan hari kedua PAUD FAIR 2018 Universitas Mulawarman diselenggarakan, para panitia menyelenggarakan lomba unjuk bakat anak yaitu fashion show, menari, mewarnai dan menggambar yang dapat diikuti oleh seluruh anak TK se-Samarinda. Pelaksanaan kegiatan ini berlangsung di Mall Plaza Mulia lantai dua. Lomba unjuk bakat anak ini diikuti oleh 6 peserta TK se-Samarinda unjuk bakat menggambar, unjuk bakat mewarnai 13 peserta TK se-Samarinda, unjuk bakat menari 15 kelompok TK se-Samarinda, dan unjuk bakat fashion show 11 peserta TK se-Samarinda.

Ada banyak hal yang bergeser seiring dengan perkembangan zaman, terutama di era digital. Seiring perkembangan di era digital, teknologi semakin canggih dan bisa dibilang semakin memudahkan hidup. Pengaruh budaya asing yang mudah masuk dan diserap anak-anak menyebabkan para orang tua khawatir dengan masa depan anak mereka.

Lihat saja betapa mudahnya informasi diakses oleh anak-anak dan generasi muda masa kini. Jika dulu informasi didapatkan dari media konvensional seperti koran dan televisi, kini anak-anak bahkan bisa mengaksesnya hanya dari genggaman tangan, alias smartphone.

Hal ini menyebabkan kehancuran terhadap anak bangsa. Di Era digital ini anak-anak dimudahkan dengan kegunaan smartphone. Anak-anak tidak lagi bermain menggunakan APE, tidak bermain dengan temannya-temannya, tidak bermain diluar rumah, dan hal-hal lainnya yang mengakibatkan kurangnya anak yang aktif, kreatif, inovatif, dan kompetitif di zaman sekarang.

Menghadapi era digital saat ini, sudah saatnya kita mengubah paradigma proses pembelajaran di dalam kelas menjadi suatu proses yang penuh dengan pengalaman, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berkolaborasi dengan gurunya, dengan temannya untuk membangun dan mengorganisasi pengetahuan, melibatkan diri dalam penelitian, belajar menulis dan menganalisis serta mampu mengkomunikasikan apa yang mereka alami sebagai suatu pemikiran baru sebagai wujud pengalaman sesuai dengan usia mereka.

Berbagai bukti menunjukkan bahwa semua bayi manusia yang lahir itu adalah makhluk kreatif dan inovatif. Kreatifitas dan bakat pada anak memang harus dipupuk dan dikembangkan. Karena sebagai pribadi dan penerus bangsa dan negara, jika mereka tidak kreatif, aktif, inofativ, dan kompetitif mereka tidak akan dapat meningkatkan kualitas pribadi dan kualitas hidup bangsa dan negara.

            Perilaku kreatif adalah hasil dari pemikiran kreatif. Namun dalam kenyataannya masih sedikit sekolah yang menyelenggarakan upaya pengembangan kreativitas dan bakat anak. Hal ini disebabkan antara lain oleh masih sangat langkanya literature yang membahas secara menyeluruh dan terinci mengenai kreativitas, bakat, dan upaya – upaya pengembangannya  khususnya di sekolah dasar. Untuk memupuk bakat anak dan mengembangkan kreativitas anak perlu pastisipasi orang tua murid.

          Tidak diragukan lagi bahwa berkreativitas, baik dalam bidang keilmuan, seni, puisi atau bidang lainnya secara jelas menunjukan bahwa aktivitas menyendiri, berkreasi dan berinovasi itu memiliki peranan penting dalam masa modern.

        Dalam mengembangkan kreativitas, seseorang dapat mengalami berbagai hambatan, kendala atau rintangan yang dapat merusak dan bahkan dapat mematikan kreativitasnya. 

        Di era reformasi,para generasi muda selalu berperan dalam perubahan Negara Ini. Generasi muda di Indonesia saat ini cenderung mengkwatirkan perilakunya bagi kelanjutan masa depan bangsa ini.  Peran generasi muda tentunya masih sangat di perlukan untuk regenerasi dalam mewujudkan dan melanjutkan cita-cita bangsa ini.  
         
          Melihat anak-anak usia dini di Indonesia ini, penulis dapat melihat bahwa masih banyak anak usia dini yang kurang aktif, kreatif, inovatif, dan kompetetif. Anak-anak yang kurang aktif, kreatif, inovatif, dan kompetitif ini terbentuk disebabkan oleh berbagai faktor.
 
              Salah satu faktor anak kurang aktif, kreatif, inovatif, dan kompetetif adalah faktor orang tua. Banyak orang tua yang tidak memberikan kebebasan pada anaknya untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Orang tua yang terlalu mengekang atau membatasi anaknya akan mengakibatkan anak  berpotensi ”minder”, merasa atau berkesimpulan bahwa di dunia ini lebih banyak batasannya ketimbang peluangnya. Mereka terbatasi oleh mentalnya sendiri

Anak aktif cenderung memiliki lebih banyak energi. anak aktif akan merasa sulit dan frustrasi jika ia harus duduk lama tanpa melakukan aktivitas apapun. Oleh karena itu, ia memerlukan suatu kegiatan beserta aturan permainan yang jelas. Sebab, apabila kegiatan yang ia lakukan tanpa ada rencana dan aturan terlebih dahulu. Maka, ia akan lepas kendali dan tanpa pikir panjang ia melakukan apa saja yang ia sukai. Dan, mungkin akan terjadi suatu masalah.
 
Anak aktif adalah anak yang memiliki kelebihan energi dan memiliki aktivitas gerak lebih tinggi dibandingkan anak-anak lainnya. Otaknya normal tanpa gangguan. Tingkah laku anak yang selalu “aktif” sebenarnya sangatlah wajar. Karena pada dasarnya masa kanak-kanak adalah masa dimana anak belajar mengenal lingkungannya melalui berbagai macam aktivitas gerak.

Anak yang aktif biasanya cenderung mempunyai rasa ingin tahu yang besar sehingga apa pun yang menarik perhatiannya akan dipegang atau dibongkar. Tapi, dia belum mampu mengembalikan ke posisi awal sehingga terkesan berantakan. Semakin dilarang serta seringnya penggunaan kata "jangan" membuat rasa ingin tahu anak semakin besar.

Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat sesuatu yang baru dan berbeda entah sifat masih gagasan atau sudah diekspresikan dalambentuk suatu karya. Kreativitas jika dilihat dari segi etimologi, kreativitas berasal dari bahasa inggris “creativity” yang mempunyai arti daya cipta dan dalam kamus besar bahasa Indonesia kreativitas yaitu kegiatan yang mendatangkan hasil dengan sifat baru, bermanfaat dan bisa dimengerti. Setiap individu memiliki kecenderungan atau dorongan untuk mewujudkan potensinya dan dorongan untuk berkembang dan menjadi matang, dorongan ini merupakan motivasi primer untuk kreativitas.

Seperti yang kita ketahui, anak-anak yang kreatif biasanya selalu ingin tahu, memiliki minat yang luas, dan menyukai kegemaran dan aktivitas anak yang kreatif. Anak yang kreatif biasanya memiliki rasa humor yang tinggi, dapat melihat masalah dari berbagai sudut pandang, dan memiliki kemampuan untuk bermain dengan ide, konsep, atau kemungkinan-kemungkinan yang dikhayalkan. Dan anak yang kreatif  cukup mandiri dan memiliki rasa percaya diri. Mereka lebih berani mengambil risiko (tetapi dengan perhitungan) dari pada anak-anak pada umumnya. Mengenai perkembangan kreativitasnya.

Untuk mengembangkan kreativitas anak dibutuhkan keharmonisan antar guru dan anak dalam proses belajar mengajar dan tidak kalah pentingnya peran orang tua anak tersebut, kreativitas anak juga berkembang dengan hadirnya guru profesional yang kreatif sebagai pemicu lahirnya inovasi proses dan hasil pembelajaran yang bermutu tinggi.

Inovatif bersifat memperkenalkan atau mengembangkan hal-hal baru dinamakan inovasi. Pada dasarnya, inovasi adalah penerapan praktis dari kreativitas. Anak yang diajarkan sejak dini akan mungkin menumbuhkan imajinasinya, dan akan memberikan stimulus baru pada cara-cara yang mungkin tak terduga.

Anak bisa saja tidak memiliki inovasi tanpa kreativitas. Ia tidak menyadari dirinya penuh kreativitas potensial jika tidak melakukan inovasi. Kedua hal itu adalah keahlian-keahlian penting yang akan sangat berguna di masa depan, karena di dalamnya memunculkan kekuatan dan kepercayaan diri.

Kompetisi, kata itu sendiri berasal dari bahasa Latin competere yang artinya “untuk berjuang bersama”. Jadi, ketika anak bersaing berarti ia berjuang dengan orang lain untuk menjadi versi terbaik dari dirinya.

Pentingnya menghadapkan anak pada persaingan juga dikemukakan oleh Dr. Timothy Gunn, seorang neuropsikologi pediatrik. Ia mengatakan pada situs web Parents, “Kompetisi membantu anak belajar bahwa tak selalu yang terbaik atau terpintar yang akan sukses, tetapi mereka yang selama ini bekerja keras.”

Terlebih lagi, kata Gunn, anak-anak yang terlibat dalam kompetisi akan mendapatkan keterampilan sosial melalui interaksi dengan anak-anak lainnya, belajar nilai-nilai kerja keras, dan mengembangkan rasa percaya diri.

Menurut penulis, PAUD Fair yang diselenggarakan oleh HIMA PG PAUD Universitas Mulawarman ini dapat menumbuhkan semangat berkompetisi pada anak. Di dalam setiap perlombaan atau kompetisi dibutuhkan kemampuan dan kreativitas agar menjadi pemenang. Dalam lomba mewarnai misalnya anak akan mengkreasikan warna pada gambar yang serasi, supaya indah dilihat tentunya juga membutuhkan daya imajinasi.

Di dalam lomba-lomba yang ada di PAUD FAIR 2018 ini juga dapat meningkatkan rasa percaya diri pada anak. Semakin sering mengikuti perlombaan anak akan semakin percaya diri. Karena anak terbiasa dilihat banyak orang, berpengalaman dalam mengikuti perlombaan. Lomba-lomba seperti mewarnai dan menggambar juga dapat meningkatkan kecerdasan. Kemampuan atau kecerdasan seseorang diuji dengan mengikuti perlombaan atau kompetisi. Dengan seringnya anak mengikuti perlombaan otomatis kecerdasannya akan meningkat. Juga  dengan anak-anak mengikuti perlombaan akan menciptakan mental yang kuat dan jiwa kompetisi yang kuat pula.

Dengan anak-anak mengikuti lomba-lomba yang diselenggarakan, anak-anak menjadi akan bertemu dengan banyak kompetitor peserta yang berasal dari banyak sekolah. Tentunya anak akan mendapatkan teman baru. Berkenalan dan banyak belajar dari teman tersebut

Jadi menurut penulis, dengan adanya PAUD FAIR 2018 ini dapat membantu Indonesia untuk mewujudkan anak-anak bangsa yang aktif, kreatif, inovatif, dan kompetitif.









                                                                 REFERENSI         

OKEZONE NEWS. (2018, 13 April). Inovasi dan Kreativitas, Tuntutan Utama Pendidikan Zaman Now. Diakses pada tanggal 22 Mei 2018, dari :
Emakpintar. (2017, Agustus). Manfaat Mengikuti Perlombaan atau Kompetisi Bagi Anak. Diakses pada tanggal 23 Mei 2018, dari :
Ibu & Balita. (2014, 20 Februari). Menumbuhkan Kreativitas dan Inovasi Anak. Diakses pada tanggal 23 Mei 2018, dari :
< https://www.ibudanbalita.com/artikel/menumbuhkan-kreativitas-dan-inovasi-anak>
Untukku. (....). Membentuk Anak Kreatif. Diakses pada tanggal 25 Mei 2018, dari :
< http://www.untukku.com/artikel-untukku/membentuk-anak-kreatif-untukku.html>
Sahabatnestle. (....). Bagaimana Mengarahkan Anak Menjadi Kreatif & Inovatif?. Diakses pada tanggal 25 Mei 2018, dari :
<https://www.sahabatnestle.co.id/content/gaya-hidup-sehat/tips-parenting/bagaimana-mengarahkan-anak.html>

Komentar